Jan 10, 2014

DASAR TAQWA DENGAN MUROQOBAH YANG BENAR

By Abuhan
Saya ingin menceritakan kisah yang saya terima dari email :
“Johny, seorang bocah laki-laki sedang berkunjung ke kakek dan neneknya dipertanian mereka. Dia mendapat sebuah katapel untuk bermain-main di hutan. Dia berlatih dan berlatih tetapi tidak pernah berhasil mengenai sasaran. Dengan kesal dia kembali pulang untuk makan malam.
Pada waktu pulang, dilihatnya bebek peliharaan neneknya. Masih dalam keadaan kesal, dibidiknya bebek itu dikepala, matilah si bebek. Dia terperanjat dan sedih. Dengan panik, disembunyikannya bangkai bebek didalam timbunan kayu, dilihatnya ada kakak perempuannya mengawasi. Sally melihat semuanya, tetapi tidak berkata apapun. Setelah makan, nenek berkata, "Sally, cuci piring." Tetapi Sally berkata, "Nenek, Johnny berkata bahwa dia ingin membantu didapur, bukankah demikian Johnny?" Dan Sally berbisik, "Ingat bebek?" Jadi Johnny mencuci piring.
Kemudian kakek menawarkan bila anak-anak mau pergi memancing, dan nenek berkata, "Maafkan, tetapi aku perlu Sally untuk membantu menyiapkan makanan." Tetapi Sally tersenyum dan berkata, "Tidak apa-apa, karena Johnny memberitahu kalau ingin membantu." Kembali dia berbisik, "Ingat bebek?" Jadi Sally pergi memancing dan Johnny tinggal dirumah.
Setelah beberapa hari Johnny mengerjakan tugas-tugasnya dan juga tugas-tugas Sally, akhirnya dia tidak dapat bertahan lagi. Ditemuinya nenek dan mengaku telah membunuh bebek neneknya dan meminta ampun.
Nenek berlutut dan merangkulnya, katanya, "Sayangku, aku tahu. Tidakkah kau lihat, aku berdiri di jendela dan melihat semuanya. Karena aku mencintaimu, aku memaafkan. Hanya aku heran berapa lama engkau akan membiarkan Sally memanfaatkanmu."
Aku tidak tahu masa lalumu. Aku tidak tahu dosa apakah yang dilemparkan musuh kemukamu. Tetapi apapun itu, aku ingin memberitahu sesuatu. Tuhan juga selalu berdiri di'jendela'. Dan Dia melihat segalanya. Dan karena Dia mencintaimu, Dia akan mengampunimu bila engkau memintanya. Hanya Dia heran melihat berapa lama engkau membiarkan musuh memperbudakmu. Hal yang luar biasa adalah Dia tidak hanya mengampuni, tetapi Dia juga tidak mengingat-ingat lagi dosamu."

Ikhwah Fillah, coba kita renungkan cerita di atas sejenak. Dalam tarbiyah kita, maiyatullah yang menjadi bagian materi muroqobatullah merupakan materi dasar yang setiap kader harus lulus terkait dengan pemahaman salimul aqidah sehingga tercipta aktifitas amal dan ibadah yang benar. Kebersamaan dengan Allah ini bukanlah sebuah konsep ‘salah kaprah’ seperti konsep wihdatul wujud Al Halaj atau Syeh Siti Jenar dan bukan juga sekadar materi tarbiyah untuk para tamhidi saja dan dilupakan setelahnya. Tapi justru harus diamalkan dalam setiap langkah dan aktifitas kita. Bahkan dalam hadits tentang ihsan penyadaran bisa bersama Allah secara minimal adalah selalu merasakan dilihat Allah. Amal ini butuh sandaran ternyata dan selalu sadar dilihat Allah adalah menjadi kunci dasar amal kita.
Aqidah yang benar akan menghasilkan ketaqwaan yang benar. Makanya selalu dalam pembinaan ke para kader dakwah, aqidah selalu menjadi madah asasi. Dia adalah pondasi yang akan menentukan bangunan yang akan didirikan. Kalau mudah keropos maka bangunannya pun akan mudah goyang-akan mudah roboh. Ketaqwaan yang menjadi ciri orang-orang beriman tidak akan dapat terwujud. Padahal ketaqwaan inilah yang menjadi derajat maqom kita di surga. Kelebihan-kelebihan karena ketaqwaan ini digambarkan Allah SWT dalam firmannya di surat Al Anfal : 29 dan Surat Al Hadid : 28 yang artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu Furqon dan menghapus segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar “. (QS. Al Anfal : 29).
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasulnya, niscaya Allah memberi rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu bisa berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “. (QS. Al Hadid : 28).
Bahkan  Sayyid Qutb Rahimahullah pernah mengatakan :
Bekal ketaqwaan selalu menggugah hati dan membuatnya selalu terjaga, waspada, hati-hati dan selalu konsentrasi penuh, bekal cahaya yang menerawangi liku-liku perjalanan sepanjang mata memandang. Dengan demikian Allah SWT akan menumbuhkan Furqon dalam hati. Hakikat taqwa hadir sebagai konsekuensi logis dari keimanan yang kokoh. Keimanan yang selalu dipupuk dengan muraqabatullah, merasa takut terhadap murka Allah dan adzabnya, mengharapkan hanya keridhoan-Nya.
Karenanya muroqobah kepada Allah sebagai bekal ketaqwaan menjadi sangat penting. Semua amal kita (amal yaumi juga) bukan ditujukan kepada amin liqo atau amin kaderisasi saja atau dilaksanakan saat ada ikhwah di sekeliling kita saja tapi ditinggalkan manakala tidak ada ikhwah, dia justru harus hidup manakala tidak ada manusia yang melihat. Inilah yang tersulit dalam aplikasi muroqobah ini. Secara sederhana pengertian Muroqobah berarti merasakan kesertaan Allah SWT atau perasaan seorang hamba yang selalu merasa diawasi oleh Allah SWT dalam setiap gerak hidupnya (Tarbiyah Ruhiyah, Abdullah Nasih Ulwan).

Terkait dengan aktifitas kita perlu sekali lagi disadari, setiap kenaikan level pembebanan bukan justru melupakan materi sebelumnya (seperti materi di kuliah atau sekolah) atau sekadar tahu tanpa pembuktian tapi yang harus kita pahami adalah kewajiban untuk selalu beramal lebih baik dari sebelumnya. Inilah makna hakikat levelisasi, selalu beramal lebih baik daripada sebelumnya. Termasuk dalam aktifitas pembinaan, tadhiyah, jihad, infaq, terlibat dalam struktur partai dakwah, mengutamakan kepentingan jama’ah daripada kepentingan pribadi, keluarga bahkan mai’syah. Masalahnya, sudahkah kita menyadari??

No comments:

Post a Comment