Saya ingin menceritakan kisah yang saya terima dari email :
“Johny, seorang bocah laki-laki sedang
berkunjung ke kakek dan neneknya dipertanian mereka. Dia mendapat sebuah katapel
untuk bermain-main di hutan. Dia berlatih dan berlatih tetapi tidak pernah
berhasil mengenai sasaran. Dengan kesal dia kembali pulang untuk makan malam.
Pada waktu pulang, dilihatnya bebek
peliharaan neneknya. Masih dalam keadaan kesal, dibidiknya bebek itu dikepala,
matilah si bebek. Dia terperanjat dan sedih. Dengan panik, disembunyikannya
bangkai bebek didalam timbunan kayu, dilihatnya ada kakak perempuannya
mengawasi. Sally melihat semuanya, tetapi tidak berkata apapun. Setelah makan,
nenek berkata, "Sally, cuci piring." Tetapi Sally berkata,
"Nenek, Johnny berkata bahwa dia ingin membantu didapur, bukankah demikian
Johnny?" Dan Sally berbisik, "Ingat bebek?" Jadi Johnny mencuci
piring.
Kemudian kakek menawarkan bila anak-anak
mau pergi memancing, dan nenek berkata, "Maafkan, tetapi aku perlu Sally
untuk membantu menyiapkan makanan." Tetapi Sally tersenyum dan berkata,
"Tidak apa-apa, karena Johnny memberitahu kalau ingin membantu."
Kembali dia berbisik, "Ingat bebek?" Jadi Sally pergi memancing dan
Johnny tinggal dirumah.
Setelah beberapa hari Johnny mengerjakan
tugas-tugasnya dan juga tugas-tugas Sally, akhirnya dia tidak dapat bertahan
lagi. Ditemuinya nenek dan mengaku telah membunuh bebek neneknya dan meminta
ampun.
Nenek berlutut dan merangkulnya,
katanya, "Sayangku, aku tahu. Tidakkah kau lihat, aku berdiri di jendela
dan melihat semuanya. Karena aku mencintaimu, aku memaafkan. Hanya aku heran
berapa lama engkau akan membiarkan Sally memanfaatkanmu."
Aku tidak tahu masa lalumu. Aku tidak tahu
dosa apakah yang dilemparkan musuh kemukamu. Tetapi apapun itu, aku ingin
memberitahu sesuatu. Tuhan juga selalu berdiri di'jendela'. Dan Dia melihat
segalanya. Dan karena Dia mencintaimu, Dia akan mengampunimu bila engkau
memintanya. Hanya Dia heran melihat berapa lama engkau membiarkan musuh
memperbudakmu. Hal yang luar biasa
adalah Dia tidak hanya mengampuni, tetapi Dia juga tidak mengingat-ingat lagi
dosamu."
Ikhwah Fillah, coba kita renungkan cerita di atas
sejenak. Dalam tarbiyah kita, maiyatullah
yang menjadi bagian materi muroqobatullah
merupakan materi dasar yang setiap kader harus lulus terkait dengan
pemahaman salimul aqidah sehingga
tercipta aktifitas amal dan ibadah yang benar. Kebersamaan dengan Allah ini
bukanlah sebuah konsep ‘salah kaprah’ seperti konsep wihdatul wujud Al Halaj atau Syeh Siti Jenar dan bukan juga sekadar
materi tarbiyah untuk para tamhidi saja dan dilupakan setelahnya. Tapi justru
harus diamalkan dalam setiap langkah dan aktifitas kita. Bahkan dalam hadits
tentang ihsan penyadaran bisa bersama
Allah secara minimal adalah selalu merasakan dilihat Allah. Amal ini butuh
sandaran ternyata dan selalu sadar dilihat Allah adalah menjadi kunci dasar
amal kita.
Aqidah yang benar akan
menghasilkan ketaqwaan yang benar. Makanya selalu dalam pembinaan ke para kader
dakwah, aqidah selalu menjadi madah asasi.
Dia adalah pondasi yang akan menentukan bangunan yang akan didirikan. Kalau
mudah keropos maka bangunannya pun akan mudah goyang-akan mudah roboh.
Ketaqwaan yang menjadi ciri orang-orang beriman tidak akan dapat terwujud.
Padahal ketaqwaan inilah yang menjadi derajat maqom kita di surga.
Kelebihan-kelebihan karena ketaqwaan ini digambarkan Allah SWT dalam firmannya
di surat Al Anfal : 29 dan Surat Al Hadid : 28 yang artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa
kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu Furqon dan menghapus segala
kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai karunia
yang besar “. (QS. Al Anfal : 29).
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah
kepada Rasulnya, niscaya Allah memberi rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan
menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu bisa berjalan dan Dia
mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “. (QS. Al Hadid
: 28).
Bahkan Sayyid Qutb Rahimahullah pernah mengatakan :
Bekal
ketaqwaan selalu menggugah hati dan membuatnya selalu terjaga, waspada,
hati-hati dan selalu konsentrasi penuh, bekal cahaya yang menerawangi liku-liku
perjalanan sepanjang mata memandang. Dengan demikian Allah SWT akan menumbuhkan
Furqon dalam hati. Hakikat taqwa hadir sebagai konsekuensi logis dari keimanan
yang kokoh. Keimanan yang selalu dipupuk dengan muraqabatullah, merasa takut
terhadap murka Allah dan adzabnya, mengharapkan hanya keridhoan-Nya.
Karenanya
muroqobah kepada Allah sebagai bekal ketaqwaan menjadi sangat penting. Semua
amal kita (amal yaumi juga) bukan ditujukan kepada amin liqo atau amin
kaderisasi saja atau dilaksanakan saat ada ikhwah di sekeliling kita saja tapi
ditinggalkan manakala tidak ada ikhwah, dia justru harus hidup manakala tidak
ada manusia yang melihat. Inilah yang tersulit dalam aplikasi muroqobah ini.
Secara sederhana pengertian Muroqobah berarti merasakan
kesertaan Allah SWT atau perasaan seorang hamba yang selalu merasa diawasi oleh
Allah SWT dalam setiap gerak hidupnya (Tarbiyah Ruhiyah, Abdullah Nasih Ulwan).
Terkait dengan aktifitas kita perlu sekali lagi disadari, setiap kenaikan level pembebanan bukan justru melupakan materi sebelumnya (seperti materi di kuliah atau sekolah) atau sekadar tahu tanpa pembuktian tapi yang harus kita pahami adalah kewajiban untuk selalu beramal lebih baik dari sebelumnya. Inilah makna hakikat levelisasi, selalu beramal lebih baik daripada sebelumnya. Termasuk dalam aktifitas pembinaan, tadhiyah, jihad, infaq, terlibat dalam struktur partai dakwah, mengutamakan kepentingan jama’ah daripada kepentingan pribadi, keluarga bahkan mai’syah. Masalahnya, sudahkah kita menyadari??
No comments:
Post a Comment