Jan 11, 2014

rindu lama

bertahun-tahun sejak aku memutuskan untuk meninggalkan duniaku, menghilangkan kejenakaan imaji dan menutup rapat-rapat nada-nada indah yang merayu untuk merangkai kata menghibur pembaca. yah, begitulah, ntah kenapa dulu aku sangat cinta tulis menulis, meski mereka berkata baca-tulis bukanlah sebuah hobi pun obsesi tapi kewajiban, aku suka, aku hanya menyukainya dan tak pernah merasa bahwa menulis pun membaca adalah sebuah kewajiban. itulah duniaku.

bertahun-tahun pula sejak aku memilih untuk bercerita dengan bahasa sederhana, memilah kata agar teman, sahabat, ataupun orang-orang disekelilingku dapat mencerna setiap rangkaian huruf yang keluar dari bibirku. bertahun-tahun sejak aku menyerah dan mencoba mendengar suara-suara lain selain gumaman dan suara hatiku. telah amat sangat lama sejak aku mulai mencoba percaya bahwa buku, tulisan, kata-kata bukanlah satu-satunya kawan yang dapat kupercaya.

aku tersadar dan mulai mengerti apa itu yang disebut-sebut sebagai teman, aku mulai membentuk sebuah arti baru untuk kata itu dalam kamus hidupku. mereka bukanlah orang yang tak pernah menyakitimu, tak berkhianat pun yang selalu mendukung setiap impian mu, mereka adalah orang-orang yang sukses memberi suatu arti, mengajarkan sebuah kehidupan meski melalui penghianatan, dan mendorong keluar dari zona nyaman, saling berlomba dngan irama kemenangan. sesaat setelah menyadarinya aku benar-benar bersyukur memilih untuk tersakiti oleh penghianatan dan menutup lembaran lama tanpa sebuah kepercayaan.

namun tetap, rindu
meski kini aku mendengar lebih banyak gelak tawa, lebih banyak curahan hati dan untaian doa penjemput mimpi, berjalan penuh makna, dan berlari demi peduli, aku merindukan duniaku. aku rindu saat-saat aku bisa meluapkan setiap rasa dalam untaian kata sehingga tak mengendap dikepala dan berakhir sia-sia. yah aku merindukan tulisan tanpa makna yang telah menamani kehidupanku sekian lama

No comments:

Post a Comment