Oct 10, 2013

Journal Review



Journal Review:
Dampak Kebijakan Inflation Targeting Terhadap Beberapa Variabel Makroekonomi di Indonesia











Lu’lu’ Rofi’atu Laila
S.1115.223



MacroEconomic II
Dosen Pengampu:
Anita Priantina, M.Ec





Ilmu Ekonomi Islam
Angkatan 11 tahun 2013-2014
Sekolah Tinggi Ekonomi Islam TAZKIA

Dampak Kebijakan Inflation Targeting Terhadap Beberapa Variabel Makroekonomi di Indonesia

Yati Nuryati, Hermanto Siregar dan Anny Ratnawati
Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Bank Indonesia, Juni 2006

I.                   SUMMARY
Paper ini mendiskusikan dampak kebijakan inflation targetting terhadap beberapa variabel ekonomi seperti harga umum, jumlah uang beredar, suku bunga, nilai tukar rupiah, ekspor dan PDB. Penelitian ini tidak dapat dilepaskan dari aspek kelembagaan BI yang difokuskan pada aspek independensi. Penelitian ini berangkat dari keadaan setelah diberlakukannya UU No. 23/1999, dimana BI menjadi sebuah lembaga yang independen dalam menjalankan kebijakan moneter. Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi dampak penerapan UU No. 23/1999 tentang Bank Indonesia terhadap variabel-variabel makro ekonomi di Indonesia. Kemudian tujuan dari penulisan paper ini dapat di spesifikkan sebagai berikut:
1.      Mengkaji aspek kelembagaan Bank Indonesia (BI), khususnya independensi BI saat menggunakan inflation targetting sebagai kerangka kerja kebijakan moneter Indonesia.
2.      Menganalisis dampak kebijakan inflation targetting terhadap nilai tukar, harga (inflasi), dan beberapa variabel makroekonomi lainnya.
Peneliti dalam melakukan analisa masalah menggunakan jenis data primer dan sekunder. Data primer mengenai aspek independensi dan pelaksanaan kebijakan moneter melalui wawancara terbuka di bagian Pusat Studi dan Kebanksentralan, Biro Hukum, Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia serta Pusat Analisis Kebijakan Ekonomi Makro Departemen Keuangan RI. Data sekunder yang digunakan dalam analisis ekonometrika pada penelitian ini adalah data time series bulanan periode 1998:1 sampai 2003:6, yang merupakan periode krisis atau transisi keluar dari krisis yang diambil dari Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik (BPS).
Untuk menjelaskan aspek kelembagaan Bank Indonesia serta struktur organisasi pelaksanaan kebijakan moneter dalam kerangka kerja inflation tergetting dilakukan secara deskriptif. Analisis terhadap tujuan No.2 dilakukan dengan menggunakan pendekatan Vector Auto Regression (VAR) struktural. Variabel yang digunakan dalam model tersebut adalah PDB (Y) berdasarkan harga konstan 1993=100, nilai tukar rupiah terhadap dollar USA (S), nilai export (X), base money (M0), suku bunga SBI 1 bulan (R), dan indeks harga konsumen (P) berdasarkan harga konstan 1993=100. Pendekatan VAR struktural dalam penelitian ini digunakan untuk melihat respon dinamis variabel-veriabel terhadap shock (inovasi) atas suatu variabel tertentu yang dilakukan dengan analisis Impulse Respon Function (IRF). Selain itu, juga ditelaah sumber-sumber fluktuasi pada suatu variabel tertentu, dengan menggunakan analisis Forecast Error Variance Decomposition (FEVD).
Analisis diawali dengan pengujian ketidak-stasioneran masing-masing variabel dengan menggunakan uji Augmanted Dicky Fuller (ADF). Setiap variabel ditemukan bersifat non-stasioner, maka VAR struktural dikombinasikan dengan pendekatan Vector Error Correction Model (VECM).
Berdasarkan hasil pengujian stasioner tersebut, maka model VECM yang terbentuk sebagai berikut:
Capture.PNG
Dimana yt adalah vektor yang berisi variabel y, s, x, mo, R dan p. µox merupakan vektor intercept, µ1x vektor koefisien regresi, Πx = axß’ dimana b’ mengandung persamaan kointegrasi jangka panjang, ix merupakan matrik koefisien regresi, yt-1 adalah variabel in-level dan ut adalah error term. µox dan t dinamakan sebagai komponen determinan. Variabel-variabel elemen vektor yt yang ditulis dalam huruf kecil menunjukkan bahwa variabel-variabel tersebut sudah ditransformasikan dalam bentuk logaritma.
Hasil wawancara di Biro Hukum dan Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan menunjukkan bahwa sistem kelembagaan BI khususnya aspek independensi setelah UU No. 23/1999 menjadi lebih independen dengan tingkat independensi sebesar 0.87 atau 87 % lebih independen dibanding periode sebelumnya.
Dari tiga aspek independensi Bank Indonesia yang meliputi: (1) independen dalam mencapai tujuan, (2) independen dalam menetapkan instrumen kebijakan, dan (3) mengabaikan intervensi dalam pemilihan gubernur, setelah penetapan UU N0. 23/1999 terlihat lebih sepadan dibanding bank sentral lain, walaupun dalam pelaksanannya masih terdapat keterbatasan dalam pengkoordinasiannya, terutama independensi dalam mencapai tujuan dan penetapan instrumen kebijakan.
Hasil analisis FEVD yang dilakukan penulis menunjukkan bahwa variabilitas nilai tukar rupiah lebih dipengaruhi oleh nilai tukar itu sendiri. Dalam jangka panjang, variabilitas nilai tukar rupiah dapat dijelaskan oleh guncangan tingkat harga sebesar 11.2%, base money sebesar 61.6% dan suku bunga SBI sebesar 6.0%. Oleh karena itu, bank indonesia selama proses pemulihan ekonomi  lebih baik menggunakan base money sebagai instrumen kebijakannya.
Berdasarkan analisis IRF, shock kebijakan moneter terhadap pengendalian harga (inflasi) direspon oleh banyak variabel ekonomi seperti PDB, ekspor, nilai tukar rupiah, suku bunga dan Base Money. Adanya lag pada guncangan suku bunga menunjukkan adanya penyesuaian dan sikap kehati-hatian para pelaku ekonomi. Respon dinamis variabel makroekonomi terhadap harga relatif singkat sehingga dalam jangka panjang stabilnya harga mempengaruhi nilai tukar menjadi cenderung stabil.
Penulis memberikan beberapa butir saran yang perlu dilakukan pemerintah untuk mengefektifkan rangkaian kebijakan moneter diantaranya penguatan instrumen peraturan dan perundangan, penegasan instrumen kebijakan, sosialisasi kebijakan untuk memberikan kepastian arah pergerakan variabel makro dan peningkatan efektifitas sistem koordinasi antara otoritas fiskal dan otoritas moneter.
II.                COMMENT
Paper ini mendiskusikan tentang dampak kebijakan inflation tergeting terhadap beberapa variabel ekonomi di Indonesia seperti harga umum, jumlah uang beredar, tingka suku bunga, ekspor dan PDB. Dalam penelitian ini penulis menambahkan pembahsan tentang aspek independensi Bank Indonesia yang berangkat dari keadaan setelah berlakunya UU No. 23/1999 dan mayoritas tidak dibahas secara detail dalam penelitian-penelitian terdahulu.
Melihat keseluruhan pembahasan dalam paper, kualitas paper cukup bagus didukung oleh data-data yang relevan yang di running dengan metode VAR-VECM membuat hasil analisa terlihat riil dan dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi para pembuat kebijakan di Indonesia. Selain itu beberapa tinjauan literatur dan penelitian terdahulu juga ditelaah sehingga dalam pembahasan paper dapat menyempurnakan dan menambah kajian mengenai aspek kelembagaan.
Selain itu, penataan letak interpretasi data dalam pembahasan hasil penelitian yang disusun secara sistematik ditambah dengan tabel-tabel hasil penelitian yang dilampirkan tepat dibawah pembahasan memudahkan pembaca untuk memehami penjelasan. Penulis juga merangkum hasil dari penelitian menjadi poin-poin kesimpulan yang mudah difahami disertai butir-butir saran konkrit yang merupakan buah dari pembahasan dan penelitian yang dilakukan.
Meskipun analisis yang dilakukan dalam paper ini adalah data time series bulanan periode 1998:1 hingga 2003:6, sehingga keadaan pasca UU No. 3/2004 yang merupakan amandemen dari UU No. 23/1999 tidak teranalisa dan perlu adanya pengembangan sehingga benar-benar relevan dengan keadaan saat ini namun secara keseluruhan paper terlihat bagus dan dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam pengambilan kebijakan oleh pemerintah.

No comments:

Post a Comment