Journal
Review:
Dampak Kebijakan Inflation Targeting Terhadap Beberapa Variabel Makroekonomi di
Indonesia
Lu’lu’
Rofi’atu Laila
S.1115.223
MacroEconomic
II
Dosen
Pengampu:
Anita
Priantina, M.Ec
Ilmu Ekonomi Islam
Angkatan 11 tahun 2013-2014
Sekolah Tinggi Ekonomi Islam TAZKIA
Dampak Kebijakan Inflation Targeting Terhadap Beberapa Variabel Makroekonomi di Indonesia
Yati Nuryati, Hermanto Siregar dan Anny
Ratnawati
Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Bank
Indonesia, Juni 2006
I.
SUMMARY
Paper ini mendiskusikan dampak kebijakan inflation
targetting terhadap beberapa variabel ekonomi seperti harga umum, jumlah
uang beredar, suku bunga, nilai tukar rupiah, ekspor dan PDB. Penelitian ini
tidak dapat dilepaskan dari aspek kelembagaan BI yang difokuskan pada aspek
independensi. Penelitian ini berangkat dari keadaan setelah diberlakukannya UU
No. 23/1999, dimana BI menjadi sebuah lembaga yang independen dalam menjalankan
kebijakan moneter. Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengevaluasi dampak penerapan UU No. 23/1999 tentang Bank Indonesia terhadap
variabel-variabel makro ekonomi di Indonesia. Kemudian tujuan dari penulisan
paper ini dapat di spesifikkan sebagai berikut:
1.
Mengkaji
aspek kelembagaan Bank Indonesia (BI), khususnya independensi BI saat
menggunakan inflation targetting sebagai kerangka kerja kebijakan
moneter Indonesia.
2.
Menganalisis
dampak kebijakan inflation targetting terhadap nilai tukar, harga
(inflasi), dan beberapa variabel makroekonomi lainnya.
Peneliti dalam melakukan analisa masalah menggunakan jenis data primer
dan sekunder. Data primer mengenai aspek independensi dan pelaksanaan kebijakan
moneter melalui wawancara terbuka di bagian Pusat Studi dan Kebanksentralan,
Biro Hukum, Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia serta
Pusat Analisis Kebijakan Ekonomi Makro Departemen Keuangan RI. Data sekunder
yang digunakan dalam analisis ekonometrika pada penelitian ini adalah data time
series bulanan periode 1998:1 sampai 2003:6, yang merupakan periode krisis
atau transisi keluar dari krisis yang diambil dari Bank Indonesia dan Badan
Pusat Statistik (BPS).
Untuk menjelaskan aspek kelembagaan Bank Indonesia serta struktur
organisasi pelaksanaan kebijakan moneter dalam kerangka kerja inflation
tergetting dilakukan secara deskriptif. Analisis terhadap tujuan No.2
dilakukan dengan menggunakan pendekatan Vector Auto Regression (VAR)
struktural. Variabel yang digunakan dalam model tersebut adalah PDB (Y)
berdasarkan harga konstan 1993=100, nilai tukar rupiah terhadap dollar USA (S),
nilai export (X), base money (M0), suku bunga SBI 1 bulan (R),
dan indeks harga konsumen (P) berdasarkan harga konstan 1993=100. Pendekatan
VAR struktural dalam penelitian ini digunakan untuk melihat respon dinamis
variabel-veriabel terhadap shock (inovasi) atas suatu variabel tertentu yang
dilakukan dengan analisis Impulse Respon Function (IRF). Selain itu, juga
ditelaah sumber-sumber fluktuasi pada suatu variabel tertentu, dengan
menggunakan analisis Forecast Error Variance Decomposition (FEVD).
Analisis diawali dengan pengujian ketidak-stasioneran masing-masing
variabel dengan menggunakan uji Augmanted Dicky Fuller (ADF). Setiap
variabel ditemukan bersifat non-stasioner, maka VAR struktural dikombinasikan
dengan pendekatan Vector Error Correction Model (VECM).
Berdasarkan hasil
pengujian stasioner tersebut, maka model VECM yang terbentuk sebagai berikut:

Dimana yt adalah vektor yang berisi
variabel y, s, x, mo, R dan p. µox merupakan vektor intercept, µ1x vektor koefisien regresi, Πx = axß’ dimana b’ mengandung persamaan
kointegrasi jangka panjang,┌ ix merupakan matrik koefisien regresi, yt-1 adalah variabel in-level dan ut adalah error term. µox dan t dinamakan sebagai komponen determinan. Variabel-variabel elemen vektor yt yang ditulis dalam huruf kecil menunjukkan bahwa variabel-variabel tersebut
sudah ditransformasikan dalam bentuk logaritma.
Hasil wawancara di Biro Hukum dan Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan
menunjukkan bahwa sistem kelembagaan BI khususnya aspek independensi setelah UU
No. 23/1999 menjadi lebih independen dengan tingkat independensi sebesar 0.87
atau 87 % lebih independen dibanding periode sebelumnya.
Dari tiga aspek independensi Bank Indonesia yang meliputi: (1)
independen dalam mencapai tujuan, (2) independen dalam menetapkan instrumen
kebijakan, dan (3) mengabaikan intervensi dalam pemilihan gubernur, setelah
penetapan UU N0. 23/1999 terlihat lebih sepadan dibanding bank sentral lain,
walaupun dalam pelaksanannya masih terdapat keterbatasan dalam
pengkoordinasiannya, terutama independensi dalam mencapai tujuan dan penetapan
instrumen kebijakan.
Hasil analisis FEVD yang dilakukan penulis menunjukkan bahwa
variabilitas nilai tukar rupiah lebih dipengaruhi oleh nilai tukar itu sendiri.
Dalam jangka panjang, variabilitas nilai tukar rupiah dapat dijelaskan oleh
guncangan tingkat harga sebesar 11.2%, base money sebesar 61.6% dan suku
bunga SBI sebesar 6.0%. Oleh karena itu, bank indonesia selama proses pemulihan
ekonomi lebih baik menggunakan base
money sebagai instrumen kebijakannya.
Berdasarkan analisis IRF, shock kebijakan moneter terhadap pengendalian
harga (inflasi) direspon oleh banyak variabel ekonomi seperti PDB, ekspor,
nilai tukar rupiah, suku bunga dan Base Money. Adanya lag pada guncangan
suku bunga menunjukkan adanya penyesuaian dan sikap kehati-hatian para pelaku
ekonomi. Respon dinamis variabel makroekonomi terhadap harga relatif singkat
sehingga dalam jangka panjang stabilnya harga mempengaruhi nilai tukar menjadi
cenderung stabil.
Penulis memberikan beberapa butir saran yang perlu dilakukan pemerintah
untuk mengefektifkan rangkaian kebijakan moneter diantaranya penguatan instrumen
peraturan dan perundangan, penegasan instrumen kebijakan, sosialisasi kebijakan
untuk memberikan kepastian arah pergerakan variabel makro dan peningkatan
efektifitas sistem koordinasi antara otoritas fiskal dan otoritas moneter.
II.
COMMENT
Paper ini mendiskusikan tentang dampak
kebijakan inflation tergeting terhadap beberapa variabel ekonomi di Indonesia
seperti harga umum, jumlah uang beredar, tingka suku bunga, ekspor dan PDB. Dalam
penelitian ini penulis menambahkan pembahsan tentang aspek independensi Bank
Indonesia yang berangkat dari keadaan setelah berlakunya UU No. 23/1999 dan
mayoritas tidak dibahas secara detail dalam penelitian-penelitian terdahulu.
Melihat keseluruhan pembahasan dalam paper,
kualitas paper cukup bagus didukung oleh data-data yang relevan yang di running
dengan metode VAR-VECM membuat hasil analisa terlihat riil dan dapat
menjadi salah satu pertimbangan bagi para pembuat kebijakan di Indonesia.
Selain itu beberapa tinjauan literatur dan penelitian terdahulu juga ditelaah
sehingga dalam pembahasan paper dapat menyempurnakan dan menambah kajian
mengenai aspek kelembagaan.
Selain itu, penataan letak interpretasi data
dalam pembahasan hasil penelitian yang disusun secara sistematik ditambah
dengan tabel-tabel hasil penelitian yang dilampirkan tepat dibawah pembahasan
memudahkan pembaca untuk memehami penjelasan. Penulis juga merangkum hasil dari
penelitian menjadi poin-poin kesimpulan yang mudah difahami disertai butir-butir
saran konkrit yang merupakan buah dari pembahasan dan penelitian yang
dilakukan.
Meskipun analisis yang dilakukan dalam paper
ini adalah data time series bulanan periode 1998:1 hingga 2003:6,
sehingga keadaan pasca UU No. 3/2004 yang merupakan amandemen dari UU No.
23/1999 tidak teranalisa dan perlu adanya pengembangan sehingga benar-benar
relevan dengan keadaan saat ini namun secara keseluruhan paper terlihat bagus
dan dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam pengambilan kebijakan oleh
pemerintah.
No comments:
Post a Comment