Pernahkah
tuan merasa begitu bahagia hingga ingin waktu berhenti berputar dan jam
berhenti berdetak?? Bahkan tuan tak lagi berfikir tentang sebuah padang rumput
luas yang indah dan penuh kedamaian dengan gemericik aliran sungai yang begitu
indah dengan aliran emas kemerahan ditimpa mega senja mencerminkan siluet
sebatang pohon rindang dengan kicauan merdu burung-burung yang hinggap
didahannya yang kokoh?? Pernahkah??
Meski
hatiku memaksa fikiranku untuk mendengar sebuah jawaban “tidak” tapi aku sadar
betapa anda semua –tuan dan puan- memiliki lebih dari satu alasan untuk
merasakan suatu kebahagiaan dan kepuasan seperti yang telah ku gambarkan, yah
anda semua punya segalanya untuk alasan kebahagiaan.
Lalu,
sepanjang indahnya hayat tuan dan puan pernahkah anda berfikir atau sekedar
menyuarakan hati bertanya akankah orang-orang kecil dan abdi jelata menemukan
alasan kebahagiaan mereka?? Seperti apakah alasan kebahagiaan itu?? Akankah
semuanya semudah dan seindah jalan yang tuan susuri?? Aku kembali bertanya
pernahkah??
Jikalau
suatu saat nanti tuan berbaik hati meluangkan fikiran dan bertanya, pernahkah
kau?? Dengan senang hati saya akan segera menceritakannya tanpa perlu tuan
melirik perputaran detik jam yang akan membuat anda berfikir ulang, maka
dengarkanlah!!? Betapa aku merasa begitu bahagia karnanya, benar sekali hanya
saat bersamanya aku merasakan kebahagiaan seperti itu, aku hanya perlu berfikir
bagaimana tuk tertawa, aku bahkan tak perlu berfikir bagaimana cara tuk
bahagia, hanya tertawa dan tertawa.
Meski
sejujurnya aku tak yakin dengan perasaan itu, tapi taukah tuan?? Ini kali
pertamanya aku berfikir kaum seperti kamipun berhak memiliki sahabat, kami juga
berhak memiliki walau hanya sebuah alasan untuk bahagia tanpa kami harus
berfikir bagaimana kami menemukan kebahagiaan-kebahagiaan lain sesudah itu.
Meski akupun tak yakin apakah aku berhak untuk berfikir orang sepertiku
memiliki seorang sahabat, bisakah aku percaya setelah berbagai penghianatan
yang menyapa tiap liku jalan kehidupan ini?? ah, bisakah anda bayangkan semua
itu tuan?? Betapa menderitanya aku karna aku bahkan tak punya keberanian tuk
menyuarakan pertanyaan itu, aku benar-benar takut pertanyaan itulah jawaban
dari segala kegundahanku, aku takut ketidakpercayaan itu adalah kenyataan yang
sebenarnya aku hindari, aku takut, aku benar-benar takut.
Akupun
mulai berharap dan menggunakan kata-kata “seandainya”, sebuah kata yang aku
ingin tak pernah ku gunakan sekalipun dalam hidup, karna kata itu menyiratkan
sebuah keputusasaan untuk orang-orang sepertiku. Aku berharap semuanya akan
terus begini tanpa harus ada yang dipertanyakan, aku hanya ingin tetap
menganggapnya sahabat walau hanya sejenak, aku bahkan tak perlu sebuah
pengakuan, sama sekali tidak, karna aku hanya butuh sebuah alasan, satu saja
alasan untuk terus tertawa tanpa harus memikirkan bagaimana tuk bahagia.
No comments:
Post a Comment