Feb 21, 2014

menabuh genderang rindu

sekilas dari judulnya aja rada kontroversial kayanya, tapi yah begitulah adanya, ga berniat bikin terlalu hiperbol ataupun mengecil-ngecilkan, daripada menabuh genderang perang kan? bukan pembenaran yang dibenar-benarkan juga loh #ngaco

jadi ceritanya, malam jum'at ini tuh harusnya jadi malam yang teramat spesial buat aku, bukan karena si dia, si dui ataupun si doi tapi karena kata pak ustad hari jum'at itu hari kemenangannya umat muslim, sebagai umat muslim aku harus bangga dong, ya ga? tapi yah karna akunya suka ga sedia payung sebelum hujan pun sedia roti sebelum lapar, jadilah aku terdampar dikosan temen dalam keadaan dingin dan kelaperan, tanpa harapan akan ada bantuan (yaiyalah didalem rumah). haish, apa coba..

ya udah lah yah, lewati aja paragraf tadi ga penting juga sebenernya (emang ada yang penting?) hahhaa.. yaudah sih yah, udah kebaca ini kan? gomen nasai :p
gatau kenapa tiba-tiba pengen nulis tentang ini aja, lagi kangen orang yang mungkin dianya juga gatau lagi dikangenin dan lebih parahnya bingung itu orang siapa. ayah bunda? pastinya itu mah ah, ga perlu dibahas juga kali #kedip-kedip kelilipan guling :0

nyanyian rindu terkadang emang sulit dimengerti, saat ia dekat genderang bertabuh merdu, tapi ketika ia jauh tarian rindu seakan membawa sendu. namun seketika amarah menodai nada dan mengecam irama. bergelut memperebutkan rasa. benci atau rindu.

seringkali kesunyian merajut cerita, merindukan mentari ketika menyapa senja dan menyesali kepergian senja saat mentari menghampiri. ah, bukankah senja tak pernah mengharap mentari menggantikannya? lalu mengapa dengan sabar ia menunggu sang mentari meski ia tau itu berarti pergi, terganti? aku bahkan tak mengerti

hari ini tak kulihat senja menanti, kutatap langit, yang kudapati hanyalah butiran hujan yang menghiasi, menambah kerinduan, rindu akan mentari, disana..
jauh disana, bermil-mil jaraknya, sebuah hati meniti nada, menabuh genderang rindu, bersyair dalam syahdu, sebuah rindu..

No comments:

Post a Comment